Cinta Pertama

Sudah dua tahun yang lalu, tapi bayangannya masih memenuhi pikiranku. Setiap orang yang aku temui slalu mengingatkanku akan dirinya. Keadaan ini sungguh sangat menyiksaku. Bahkan akhir-akhir ini aku semakin sering memimpikannya. Mungkin karena dia adalah cinta pertamaku.

Aku tak mengerti kenapa aku tak bisa menghapus bayangannya. Sesungguhnya sudah sejak lama aku ingin melupakannya. Melupakan kenangan indah saat aku masih bersamanya. Entah kenapa aku slalu gagal.

Ku langkahkan kaki mengelilingi sudut kota Manchester. Merasakan udara pantai yang begitu sejuk. Aku duduk di sebuah taman, sambil memandang kearah pantai menunggu sunset. Ku pandangi orang-orang di sekelilingku, mungkin berharap sosok yang ku rindukan ada di tempat itu. Seperti orang yang kehilangan arah, konyol! Setiap orang di tempat itu seakan–akan hampir mirip dengannya. Oh Tuhan, ini semua benar-benar membuatku gila.

Sebenarnya aku tak nyaman dengan keadaan ini, tapi aku tak tahu harus bagaimana. Ku kira dengan aku pindah ke sini aku akan dengan mudah melupakannya. Pemikiran yang terlalu naif memang, tapi sudah seharusnya begitu. Keadaan ini sangat menggangguku dan juga menyiksaku.

Ini semua sedikit membuatku putus asa. Mungkin akan ku biarkan saja seperti itu. Semakin aku mencoba semakin ku merasa tak mampu melakukannya. Terlalu seringnya aku memikirkan dia sampai-sampai dia slalu datang dalam tidurku. Bahkan akhir-akhir ini semakin sering dia hadir dalam mimpiku. Setelan aku tersadar dari lamunanku. Ternyata sudah hampir gelap, dan tanpa ku sadari aku telah melewatkan sunsetnya. Jadi, aku memutuskan untuk kembali saja ke rumah.

Setibanya di kamar, ku hempaskan tubuhku ke tempat tidur. Hari ini memang sungguh melelahkan. Mataku menerawang jauh ke langit-langit kamar dan aku baru ingat sudah seminggu terakhir aku tak membuka emailku. Sahabat-sahabatku di Indonesia biasanya mengirimkan email padaku. Benar saja, kotak masukku dipenuhi email dari mereka. Lalu aku buka satu per satu, dan betapa terkejutnya aku setelah membaca semua email itu. Mereka berkata bahwa Firman sudah tiada. Aku hanya terpaku melihat email itu. Aku masih tak percaya dengan kabar yang ku dapat. Sekarang aku baru mengetahui apa alasan Firman memutuskan hubungannya denganku dulu, ternyata karena dia sakit parah. Ya Tuhan, kenapa dia tidak jujur saja padaku. Mengapa aku harus tahu dengan cara seperti ini, saat dia sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sangat menyesal, karena aku tidak bisa berada di sisinya disaat-saat terakhirnya.

***The End***

air_mata_by_jcita-d30pv7a

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s