LORONG WAKTU SEJARAH

Bendera Merah-Putih

Bendera Merah-Putih

Suasana sekolah masih nampak senggang. Kabut hitam di langit masih membentang. Tetesan embun pun masih terlihat di dedaunan kala itu. Kelembabannya begitu terasa. Sepasang mataku menelusuri di sepanjang koridor, namun hanya senyap yang ku lihat. Aku terus melangkah meski berat, seperti ada sesuatu yang membebani. Nuansa pagi yang senyap, itulah gambaran yang ku alami saat ini.

Masih terbersit dalam benakku, disaat suasana seperti ini. Perihal kemunculan sesosok laki-laki asing, bertubuh tinggi tegap dan mengenakan seragam tentara RI tempo dulu. Tiba-tiba menyeruak di tengah-tengah kerumunan pasukan paskibraka pada waktu upacara hari kemerdekaan RI berlangsung. Laki-laki itu menoleh ke arahku dengan tatapan matanya yang  dingin. Yang terasa membekukan ulu hatiku. Roman wajahnya yang seputih kapas itu nampak semakin memucat terkena terpaan semilir angin, kala langit berkabut saat itu. Membuat bulu kudukku meremang, hingga sekarangpun, aku masih merasa bergidik ngeri bila melihat bila teringat akan hal itu. Apalagi bila teringat akan tatapan mata laki-laki itu, terasa begitu janggal di mataku, dan aku sama sekali tak kuasa melepaskan pandanganku dari sorot matanya, tapi harus aku yang menyaksikannya? Dan kenapa harus aku pula yang mlihat kehadirannya? Bukankah aku ini tidak memiliki ilmu supranatural, lalu bagaimana mungkin aku bisa bertatapan dengannya? Pertanyaan pertanyaan yang kerap kali berputar-putar di benakku.

Aku kembali terkesiap, langkah ku tercekat seketika. Aku menengadah ke atas langit yang masih muram karena kabut hitam masih menyelubunginya. Dadaku terasa berguncang, dan tubuhku terasa menggigil. Sebuah letupan keras terdengar menggemakan telingaku. Seperti suara sebuah senapan, dan rintihan memilukan pun turut terdengar. Ku cari-cari asal suara itu, namun sia-sia tak tampak seorangpun yang bisa ku temui. Aneh, aku kembali bergidik. Ku seret langkah ini untuk bergegas pergi, menghilangkan ketakutan yang telah sejak tadi aku pendam. Namun sepertinya tak bisa. Aku merasa terbelenggu di gedung sekolah yang besar dan senyap ini, dan aku tak mampu menemukan jalan keluarnya. Aku mulai risau, peluh dingin mulai membasahi keningku. Ku edarkan pandanganku ke berbagai penjuru namun tetap saja hanya kehenyapan yang terasa, dan hembusan angin yang sedingin salju terus- menerus menusuk pori-pori kulitku.

Aku terus melangkah walau kian tertatih-tatih, tubuhku terus lunglai, namun keanehan kembali terjadi, sekelebat pasukan berseragam tentara kolonial Belanda lengkap dengan senjatanya, berlarian serentak menjajari langkahku. Aku terperanjat dibuatnya, dadaku kembali bergemuruh, tetapi mereka seolah-olah tidak melihat keberadaanku. Terakhir aku melihat sosok lain , sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap yang pernah ku lihat sebelumnya. Laki-laki berwajah pasi dengan tatapan dinginnya, kini untuk yang kedua kalinya ku lihat. Ia berjalan begitu gontai, hingga akhirnya ia terpelanting jatuh dan terjerembab di atas rerumputan dimana saat pertama kali aku melihatnya. Ia terlihat menggejang kesakitan memegang perutnya yang bersimbah darah, berarti suara letupan tadi benar-benar suara letupan timah panas yang telah menembus tubuh laki-laki itu. Aku terpengaruh melihatnya dengan segenap keberanian yang ada aku menghampirinya. Raut wajahnya begitu sendu, tatapannya tak sedingin waktu itu, tatapan matanya begitu mengiba. Meskipun begitu, ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum padaku, walau hanya senyuman getir. Perlahan ia mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya yang telah lusuh itu. Oh.. ternyata sebuah bendera pusaka.

“Tolong… jaga dan rawatlah bendera ini dengan sebaik-baiknya. Selamatkanlah bendera ini sebelum penjajah-penjajah itu merebutnya dari tangan kita.” ujarnya dengan terbata-bata, ku ulurkan tanganku untuk menerima bendera pusaka itu. Tanpa ku sadari bulir-bulir air bening jatuh dari kedua sudut mataku. Aku terharu dengan pengorbanannya untuk bangsa ini. Sesekali ku dengar rintihannya, merasakan betapa perihnya timah panas itu menembus tubuhnya hingga terkulai seperti ini.

“Cepaaaaat… lari…, selamatkanlah bendera itu!”

“Tidak… aku tak tega meninggalkan mu sendiri dalam keadaan seperti ini.” Tukasku sambil memandang iba padanya.

“Tak usah kau pedulikan aku, kemerdekaan bangsa ini jauh lebih berharga daripada nyawaku. Ayo cepatlah jangan sia-siakan waktu..!’ ujarnya dengan nada suara yang telah melemah. Aku bangkit, ku langkahkan kaki menjauhinya namun air mata ini masih terus berlinang, melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Ia memejamkan kedua pelupuk matanya. Ku dekap erat-erat bendera merah putih ini, hingga suara dengan bahasa asing menggema membuatku terpaku dan mataku terbelalak hebat, melihat tentara Belanda menatap gusar ke arahku.

“Akhh… bagaimana mungkin aku menjadi salah satu tokoh patriotisme di era tempo dulu?”

Aku berlari dan terus berlari sekuat tenaga menyelamatkan sang merah putih dan anehnya lagi mereka tak bisa lagi memburuku. Tiba-tiba sepotong tangan kokoh menepuk-nepuk bahuku. Aku terlonjak kaget, napasku tersendat dan kepalaku terasa begitu pening. Lalu ku kedipkan sebelah mataku, aku merasakan telah kembali ke alam nyata. Setelah ku lalui peristiwa di alam maya yang melelahkan dan sulit diterima logika. Keadaan kembali berubah, aku kembali berada di tengah-tengah barisan teman-temanku dan barusan Andry menyadarkanku.

“Kau baik-baik saja kan, Anggraini..?” suara lembut cowok itu bergulir lembut di telingaku, nampak kecemasan tersirat di wajahnya.

Aku hanya mengangguk pelan. Aku terdiam dan masih tidak percaya, aku baru saja melewati sebuah lorong waktu sejarah. Mataku kembali menatap sosok laki-laki itu, yang mendadak sirna begitu saja dan anehnya bendera merah putih yang ia berikan itu masih ada di genggaman  tanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s